Selasa, 26 Februari 2013

Tumbuhan ini Jawaban Krisis Pangan Indonesia




Orang Indonesia identik dengan nasi. Sehari tidak bertemu nasi berarti makan belum afdol. Paradigma ini telah berakar sejak lama sehingga nasi menjadi unsur budaya yang kuat di negeri ini.

Problem gagal panen, kekeringan menjadi masalah utama ketersediaan beras untuk kebutuhan pangan nasional. Ketika kita tidak lagi bisa swasembada beras, keran impor pun dibuka lebar agar beras, berikut juga kestabilan harganya tetap terjaga. Tapi sampai kapan kita bertahan dengan solusi ini? 




Belakangan, berbagai jalur alternatif ditempuh supaya ketergantungan akan beras bisa dikurangi. Jagung, ketela, sagu, serta roti (bagi kalangan tertentu) digalakkan kembali. Daerah tertentu seperti Depok mengeluarkan kebijakan "Selasa tanpa nasi" yang kini berlaku di lingkungan kantor Pemerintah Daerah.

Dari banyaknya upaya alternatif, mungkin pemerintah sudah saatnya memberi perhatian lebih pada gerakan para petani di Flores. Mereka telah berhasil mengembangkan tanaman pangan yang sangat handal di segala cuaca, yakni sorgum.

Sorgum ( Sorghum /  Andropogon sorghum) adalah tanaman lokal di Flores - menurut wikipedia, asal tanaman ini dari Afrika Utara lalu menyebar ke daerah tropis. Sampai sekarang dibudidayakan secara masiv di banyak negara. Masuk ke Indonesia, khususnya Flores sejak lama.

Ironis, keberadaannya sempat terlupakan puluhan tahun akibat program berasnisasi di tahun 1980-an. Pada era itu, Presiden Soeharto dikenal dunia karena berhasil menjadikan Indonesia negara yang swasembada beras. Hal ini tentunya mempengaruhi harga di pasaran. Prospek penanam padi melonjak drastis. Akibatnya, para petani di semua wilayah negeri ini 'wajib' menanam padi. Tak terkecuali Flores. Bisa ditebak, sorgum seolah lenyap begitu saja.

Warisan rezim otoriter yang tidak memperhatikan ciri khas masing-masing daerah berimbas buruk. Ketika padi membutuhkan iklim yang bagus untuk tumbuh subur, maka daerah yang cenderung kering karena curah hujan rendah tidak bisa memenuhi kebutuhan pangannya. Gunung Kidul, Wonogiri, atau pulau-pulau di Nusatenggara yang diliputi savana dan beriklim kering kerap dilanda kelaparan serta kekurangan pangan.


Maria Loretta


Beruntung, sekarang sorgum muncul kembali.  Maria Loretta yang memelopori penanaman sorgum untuk para petani di Flores. 

Maria awalnya tidak menyangka akan jadi petani. Namun, sesudah menikah, perempuan berdarah Dayak ini diboyong suaminya ke Flores dan tidak memiliki aktivitas berarti. Dengan modal yang ada, Maria kemudian berinisiatif membudidayakan pangan lokal yang ada di sekitar Flores.





Bibit ini dicarinya hingga ke wilayah terpencil di Flores. Ketika akhirnya ditemukan, bibit itu kemudian dibarter Maria dengan gula atau kopi. Bibit termahal yang dibelinya adalah Sorgum Merah dari Desa Nobo, Kecamatan Ile Boleng. Untuk sepuluh kilogram bibit, Maria harus merogoh kocek hingga Rp 150.000. Itu belum termasuk ongkos kendaraan dan waktu yang dihabiskannya menuju Desa Nobo.

Ketika ditanya mengapa ia segigih itu melakukan pemburuan, Maria menjawab tegas,”Produk tanaman unggulan kita bisa menjawab isu tentang pangan yang melanda dunia. Kenapa kita harus berpikir untuk impor benih dari luar negeri?”.


Keunggulan sorgum


sorgum sangat cocok jadi alternatif pangan di Indonesia. Cara menanamnya sangat mudah. sorgum bisa tumbuh subur walau musim kemarau panjang, atau di daerah yang kering, bertanah marjinal, berpasir, bahkan berbatu. sorgum juga tidak membutuhkan pupuk sehingga tidak membahayakan unsur hara dalam tanah.




Soal kandungan gizi, sorgum jauh lebih unggul dibanding beras. Menurut Maria dari hasil studinya, zat besi dalam sorgum 5,7 kali lebih banyak dari beras. Vitamin B1 4,7 kali lebih banyak dari beras, dan kalsium 4,6 kali lebih banyak dari beras.

Diketahui ada sekitar 10 jenis sorgum. Yang banyak dikenal adalah sorgum merah dan sorgum putih. Pengolahannya selain untuk makanan pokok bisa dibuat menjadi gula bit, sirup, etanol, hingga untuk pakan ternak.

Harganya jauh lebih murah dari beras. Seperti papar Maria berikut ini, "Saya sampaikan kepada teman-teman yang mendukung gerakan cinta pertanian agar harga sorgum tidak boleh lebih dari 5000 rupiah. Karena harga beras per liter sekitar 8500 rupiah. Jadi harus di bawah harga beras agar program sorgum bisa diterima masyarakat."

Sudah banyak bukti keunggulan sorgum. Jadi, tunggu apa lagi?







Tidak ada komentar:

Posting Komentar